ARCHITECTURE

KANOPI BUDAYE: TAMAN BUDAYA KALIMANTAN BARAT, PONTIANAK

KANOPI BUDAYE: TAMAN BUDAYA KALIMANTAN BARAT, PONTIANAK

Building Category

Arsitektur, Kalimantan Barat, Komersil, Perencanaan, Pontianak, Proposal Desain, Sayembara, Serbaguna

Location

Pontianak, Kalimantan Barat

Area

3000+ m²

Year

2019

Team

Adhitya Djarot, S. Ars, MUD.
Ar. Rofi Muhammad, S. Ars.
Robiansyah Khatulistiana, S. Ars.

SAYEMBARA TAMAN BUDAYA KALIMANTAN BARAT
Competition Entry

Pontianak adalah kota yang lahir, tumbuh, dan berkembang sebagai ruang pertemuan berbagai peradaban. Sejak awal berdirinya, kota ini tidak dibangun atas dasar homogenitas, melainkan keberagaman. Karakter tersebut menjadikan Pontianak sebagai kota multikultural yang terbuka, ramah, dan dinamis di wilayah Kalimantan Barat.

Sejarah Pontianak bermula dari berdirinya Kesultanan Pontianak yang dipimpin oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadri. Setelah terjadinya pertempuran melawan perompak di kawasan Sungai Kapuas, wilayah ini berhasil diamankan dan menjadi titik awal terbentuknya sebuah pemerintahan baru. Peristiwa ini bukan hanya penaklukan wilayah, tetapi juga fondasi lahirnya kota dengan visi persatuan.

Alih-alih membangun kota yang eksklusif, Sultan Syarif Abdurrahman justru membuka Pontianak bagi berbagai etnik dan budaya. Masyarakat dari beragam latar belakang dipersilakan untuk menetap dan berkembang. Wilayah pesisir hingga pedalaman kemudian dihuni oleh komunitas yang beragam, menciptakan pola permukiman yang unik dan berbasis identitas budaya masing-masing.

Dengan pendekatan tersebut, Pontianak berkembang sebagai kota yang menyatukan komunitas Melayu, Tionghoa, Dayak, dan berbagai etnis lainnya. Interaksi antarbudaya ini membentuk identitas kota yang khas, tercermin dalam arsitektur, tradisi, kuliner, hingga kehidupan sosial yang harmonis. Keberagaman ini juga menjadi potensi besar dalam pengembangan ruang publik kota, termasuk dalam sektor komersial dan ruang serbaguna yang adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern.

Cita-cita untuk mempersatukan berbagai komunitas inilah yang menjadikan Pontianak sebagai kota yang inklusif. Tidak hanya dikenal sebagai kota yang dilalui garis khatulistiwa, Pontianak juga menjadi simbol persatuan dalam keberagaman. Hingga kini, semangat tersebut tetap hidup dan menjadi fondasi dalam perkembangan kota baik dalam aspek budaya, sosial, maupun perencanaan arsitektur.

BACK TO PROJECTS